Polemik Video Syaikh Sai’d Al-Kamali

Polemik Video Syaikh Sai’d Al-Kamali - Kajian Medina
"POLEMIK VIDEO SYAIKH SAI'D AL-KAMALI"

Bismillahirrahmanirrahim

Saya telah melihat video Syaikh Said al-Kamali yang diperselisihkan antara kawan-kawan Aswaja dan Salafi [Wahabi], khususnya pada menit ke 28 dan seterusnya dari durasi 40 menit. Sebagian menyebut beliau Asy'ariyah dan sebagian menyebut beliau Atsariyyah atau Salafi Wahabi.

Dalam kesimpulan saya [Semoga tidak keliru]:

1. Beliau tidak mengikuti ulama' yang menafikan makna zhahir. Karena kata beliau, zhahir yang melahirkan tasybih adalah zhahir versi sifat makhluk. Dan madzhab ini menurut beliau adalah musykil. Tetapi, meskipun beliau tidak merajihkan madzhab ini, beliau pun tidak mencelanya. Akhlak yang sangat baik.

2. Beliau menetapkan sifat nuzul Allah sebagaimana zhahirnya, tapi zhahir ahli lisan saat turunnya wahyu. Yaitu zhahir yang tidak sama dengan makhluk. Dan tampak beliau merajihkan pendapat ini.

Disini letak klaim Salafi Wahabi dimulai, bahwa katanya beliau sejalan dengan mereka. Padahal sepanjang pembacaan saya, mereka tidak pernah menyampaikan argumentasi seperti yang beliau sampaikan. Walaupun harus diakui ada serpihan hujjah beliau yang sama seperti mereka.

Kemudian apakah beliau Asy'ariyah atau Atsariyah atau Salafi Wahabi [Saya tidak pernah menyebut mereka adalah Atsariyah]?

1. Lahiriah-nya beliau tidak mengikuti Asy'ariyah dalam konteks ini. Dan ini juga yang dikatakan Syaikh Nizar Hammadi [yang saya baca] saat mengomentari video Syaikh Sa'id al-Kamali. 

2. Atsariyyah sendiri menafikan zhahir lughowi, karena kuat potensinya melahirkan tasybih. Demikian jika kita memaknai Atsariyah adalah Hanabilah [Hanbali].

Ibn Ghunaimah al-Hanbali berkata:

وحملها على الظاهر يوجب التشبيه فلم يبق الا التأويل او حملها على ما جاءت لا على الظاهر

"Dan memaksudkan sesuai zhahirnya menyebabkan tasybih. Maka tiada lain kecuali ta'wil atau diarahkan sesuai datangnya dan bukan zhahirnya" [Al-Muwassadah]

Dan ini pula yang dikatakan Ibnul Jauzi al-Hanbali, Ibn Aqil al-Hanbali, Ibn Hubairah al-Hanbali, Taqiyuddin al-Futuhi al-Hanbali, Mur'i al-Mar'i al-Hanbali dan lain-lain. Clear inilah madzhab Atsariyyah Hanabilah.

3. Lalu apakah beliau pengikut Atsariyyah Ahli hadits? Atau justru Salafi Wahabi?

Jawabannya:

I. Kita akan baca terlebih dahulu akidah Ahli hadits terkait dengan ini. 

Imam ash-Shabuni dalam Aqidah as-Salaf Ashhabul Hadits (hlm. 22) berkata:

وَيُثْبِتُ أصْحَابُ الحَدِيْثِ نُزُولُ الرَّبِّ سُبْحَانَهُ وتَعَالى كُلَّ لَيْلَةٍ إلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا مِنْ غَيْرِ تَشْبِيْهٍ لَهُ بِنُزُوْلِ المَخْلُوقِيْنَ وَلاَ تَمْثِيْلٍ ولاَ تَكْيِيْفٍ، بَلْ يُثْبِتُونَ مَا أثْبَتَه رَسُول الله صلى الله عليه وسلم وَيَنْتَهُونَ فِيْهِ إلَيْهِ، ويُمِرُّون الخَبَرَ الصَّحِيْحَ الوَارِدَ بِذِكْرِهِ عَلىَ ظَاهِرِه ويَكِلُون عِلْمَه إلىَ الله

“Ashhabul Hadits menetapkan nuzul Rabb Subhanahu wa Ta’ala setiap malam ke langit dunia dengan tanpa menyerupakan-Nya dengan nuzulnya makhluk, tidak tamtsil (mencontohkannya) dan tidak takyif. Akan tetapi mereka menetapkan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah ﷺ dan berhenti pada perkataan beliau, memberlakukan khabar shahih yang datang sebagaimana zhahirnya dan menyerahkan ilmunya kepada Allah”.

Zhahir yang dimaksudkan oleh Imam ash Shabuni adalah zhahir lafazh, bukan zhahir makna lughawi seperti yang dipahami pengikut madzhab itsbat (makna zhahir lughowi). Bukti tafwidhnya adalah beliau menyerahkan maknanya kepada Allah yang merupakan ciri-ciri tafwidh.

Kesimpulannya, ahli hadits adalah tafwidh. Dan Syaikh Sa'id al-Kamali tidak menyinggung ini. Mungkinkah di pengajian yang lain? Wallahu a'lam.

II. Kemudian kita akan baca akidah Salafi Wahabi:

Syaikh Khalil Harras [Salafi Wahabi] menjelaskan makna nuzul Allah:

ان نزوله الى السماء الدنيا يقتضي وجوده فوقها فانه انتقال من علو الى سفل

"Nuzul [turun] Allah ke langit dunia menunjukkan wujud Allah di atas langit. Maka sesungguhnya nuzul adalah berpindah dari atas ke bawah".

Dan Syaikh Sa'id al-Kamali dalam video tidak pernah mengatakan seperti kata Syaikh Khalil Harras. Clear!!!

Lebih tegas lagi, salah seorang ulama Salafi Wahabi, Syaikh Adnan al-Bukhari yang memperjelas kritik keras Syaikh Bin Baz kepada Imam Baihaqi yang menafikan gerak [harakat] dan berpindah [intiqol] yang merupakan lazim dari sifat nuzul:

الباطل في كلام البيهقي رحمه الله نفيه للحركة والانتقال من حال الى حال مع اثبات النزول والمجيء وهذا فيه تناقض لمن أثبت المعنى الظاهر الحقيقي لهما


"Yang batil pada kalam al-Baihaqi rahimahullah adalah penafian bergerak dan berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain besertaan menetapkan nuzul dan maji'. Dan ini adalah tanaqudh bagi yang menetapkan makna zhahir haqiqi bagi keduanya".

Kesimpulannya, Syaikh Sa'id al-Kamali bisa dikatakan tidak sama dengan Salafi Wahabi. Kalaupun ada sedikit kesamaan, bahasa tepatnya beliau memusykilkan zhahir versi Asy'ariyah yang diklaim melahirkan tasybih, maka itu benar. Tetapi juga beliau tidak sejalan dengan akidah mereka, Salafi Wahabi.

Lalu?

Apakah Syaikh Sa'id al-Kamali sama seperti akidah Imam Ibn Abdil Bar al-Maliki? Dan apakah Imam Ibn Abdil Bar mengikuti itsbat makna zhahir 'ala Salafi Wahabi?

Jawabannya:

Imam Ibn Abdil Barr menta'wil sifat nuzul Allah sebagaimana disebutkan Imam Ibn Rajab al-Hanbali.

Setelah menyebut ta'wil nuzul Allah dengan Allah menghadap kepada hamba-Nya dan menyirami rahmat dan ihsan-Nya, Imam Ibn Rajab berkata:

منهم ابن قتيبة والخطابي وابن عبد البر

"Yang menta'wil demikian sebagian darinya adalah Ibn Qutaibah, al-Khaththabi, dan Ibn Abdil Bar". [Fath al-Bari Li Ibn Abdil Bar]

Ibn Abdil Bar dalam at-Tamhid juga mengatakan bahwa ahli atsar [Atsariyah] menta'wil nuzul:

وقد قال قوم من أهل الاثر أيضا أنه ينزل أمره وتنزل رحمته

"Sungguh sebagian kelompok ahli atsar juga menta'wil bahwa Allah turun urusan-Nya dan turun rahmat-Nya"

Dalam at-Tamhid, Imam Ibn Abdil Bar juga mengkritisi ucapan Nu'aim bin Hammad yang mengatakan Allah nuzul bi-dzatihi, karena diksi ini bisa melahirkan kaifiyyah bagi Allah yang harus dihindari. Dan menafikan kaifiyyah serta melarang menambahkan diksi "bi-dzatihi" dalam sifat Allah adalah madzhab ahli tafwidh dan ta'wil. Padahal disisi lain, Salafi Wahabi membela mati-matian akidah Allah nuzul bi-dzatihi dan menetapkan kaifiyah bagi Allah.

Dengan ini jelas bahwa Imam Ibn Abdil Bar ternyata ahli ta'wil dan membantah klaim Salafi Wahabi bahwa beliau ahli itsbat.

Kesimpulannya:

Syaikh Sa'id al-Kamali cenderung mengikuti madzhab yang berbeda dengan Asy'ariyyah, Hanabilah Atsariyyah, dan bahkan Salafi Wahabi. Tapi beliau tanzih dan tidak mentasybihkan Allah dengan makhluk. Terbukti beliau tidak menetapkan lazim dari nuzul, yaitu bergerak, berpindah dan turun dari atas ke bawah. Sementara Salafi Wahabi menetapkan gerakan, berpindah, dan turun dari tempat atas ke bawah dalam nuzul Allah. Atau paling tidak mereka menolak keras ulama' Ahlussunnah yang menafikan lazim sifat di atas kepada Allah.

Wallahu a'lam.

Polemik Video Syaikh Sai’d Al-Kamali - Kajian Medina

Hidayat Nur
6 Agustus 2020 pada 12.39 ·

Related Posts

Ayo Belajar Islam

"Ayo belajar ilmu fiqih, agar tidak mudah menyalahkan orang dan tidak gampang bilang bid'ah kepada sesama muslim." "Ayo belajar fiqih ihktilaf, agar tidak merasa paling benar sendiri." "Ayo belajar perbandingan mazhab, agar tidak merasa selain kami sesat." (Kajian Medina)

Kajian Medina

Blog Kajian Medina : Cerdaskan Umat Lewat Kajian Khilafiyah, Ikhtilaf dan Ukhuwah oleh Ustadz dan Tokoh Sebagai Pencerahan Menuju Persatuan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah.