Diantara tuduhan yang dialamatkan kepada salah satu madzab aqidah terbesar ahlusunnah adalah : Bahwa Asy'ariyah menolak sifat Allah berupa "tangan" dan "istiwa".
Ini tuduhan keliru sebagaimana ngawurnya pernyataan kalau Asy'ariyah berpendapat Allah ada dimana-dimana.
Tidak ada yang mengingkari sifat Allah beristiwa', karena mengingkari itu bisa kafir, tapi jangan mengkafirkan pihak yang tidak membatasi makna istiwa dengan bersemayam, karena memilih menerima bahwa Allah ber-istiwa dengan semua makna kata istiwa tersebut. Bukan menerima satu makna dan menolak makna yang lain.
Jangan katakan, "Semua pemahaman anda bertentangan dengan ayat ini dan ayat itu..." seakan-akan ayat -ayat al Qur'an itu turun kepada anda dan kelompok anda, dan belum pernah sampai kepada ulama yang lain.
Berikut penjelasan yang dibutuhkan oleh siapapun yang ingin bersaudara dengan semua muslim dalam ikatan ahlusunnah wal jama'ah, meski berbeda madzab aqidah.
Karena perbedaan dalam madzab Asy'ariyah, Maturidiyah dan Atsariyah bukan pada menerima atau menolak dalil, tapi pada pemahaman atas sebuah dalil.
Asy'ariyah yang lurus tidak akan menyerang, menyalahkan apalagi mengatakan bahwa Atsariyah bukan bagian dari ahlussunnah. Betapa sebenarnya mereka juga yakin bahwa pemahamannya lah yang lebih bersesuaian dengan paham salaf.
Harapannya demikian juga seharusnya sikap saudara-saudara dari Salafiyah. Mengkritik atau mengkoreksi itu sah saja, tapi menyesatkan, dan mengusir pihak lain dari "rumahnya" dengan mengatakan salah alamat lalu melempari batu, itu fatal kelirunya.
Ingatlah nasehat ulama : "Jangan lempari rumah orang lain dengan batu, kalau rumah kita sendiri terbuat dari kaca."
Ahmad Syahrin Thoriq
29 Juni pukul 07.10 ·
Penjelasan gamblang Dr. Hamza el Bekri tentang kontradiksi pihak yang suka penggunaan dzahir ayat bahwa Allah bertempat di langit.
Sebuah kazanah ilmu yang bisa memperkaya pemahaman kita, agar tidak mudah melemparkan tuduhan sesat kepada Asy'ariyah dan madzab takwil lainnya.
Video ini untuk kelas lanjutan. Karena bagi yang belum paham, memang sebaiknya belajar bahasa Arab dulu dari pada ribut bab aqidah atau manhaj. Agar tidak seenaknya menelan terjemahan, lalu terjemahannya itu dianggap sama dengan makna aslinya.
Seperti istiwa yang diartikan dengan bersemayam. Padahal sesama madzab "Allah di langit" kebanyakan tidak sepakat dengan terjemahan bersemayam. Tapi karena nggak ngerti bahasa arab, ya telan aja. Lalu yang nggak sepaham divonis tidak mengikuti salaf.
Ahmad Syahrin Thoriq
28 Juni pukul 09.53 ·
silahkan nonton video kajiannya di https://www.facebook.com/AhmadSyahrinThoriq
#Ahmad Syahrin Thoriq