Sibuk Bicara Politik?

Sibuk Bicara Politik? - Kajian Medina
SIBUK BICARA POLITIK ?

Berbicara tentang “politik”, tidak melulu buruk. Tergantung tema apa yang dibicarakan. Jika pembicaraannya dalam rangka menjelaskan hukum ikut serta memberikan pilihan dalam pemilu, atau menjelaskan aplikasi kaidah “irtikap akhuffi adh-dhararain” dalam ajang pemilu, atau mengarahkan umat untuk memberikan suaranya kepada paslon yang dianggap lebih ringan mudharatnya, atau menyadarkan umat akan pentingnya sikap saling menghormati ketika terjadi beda pendapat dalam masalah ini, atau yang semisalnya, maka ini sebuah pembicaraan yang baik dan berpahala – insya Allah-.

Kenapa ? Karena ini semua pada hakikatnya sebuah “ilmu” yang perlu untuk dijelaskan kepada umat. Para ulama’ juga telah melakukan hal ini dalam fatwa-fatwa mereka, seperti syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al-Albani, Syaikh Al-‘Abbad, syaikh Shalih Al-Fauzan, dan yang lainnya. Fatwa-fatwa mereka tersebar di kitab-kitab yang tercetak ataupun di jagad maya. Demikian juga sebagian ustadz di Indonesia ikut andil menjelaskan masalah-masalah tersebut di atas, terkhusus waktu-waktu belakangan ini karena situasi dan kondisi membutuhkannya.

Orang yang melarang bicara politik secara mutlak, sangat mungkin dia tidak memahami makna kata “politik” itu sendiri. Tahunya, “politik” itu buruk, maka harus ditinggalkan secara total. Ini sebuah kesalahan, yang dibangun di atas kesalahan. Biasanya, pendapat seperti ini muncul dari kelompok muslimin yang golput (baca : oknum) atau sering diistilahkan dengan “golputers”.

Perlu untuk diketahui, bahwa kata “politik” yang dalam bahara Arab diistilahkan dengan As-Siyasah ( السياسة ) artinya : “Setiap usaha berupa perkataan atau perbuatan dalam rangka untuk mewujudkan kemashalatan dan meminimalisir kerusakan”. Demikian dinyatakan oleh Ibnul Qoyyim –rahimahullah- dalam kitab “At-Turuqul Hukmiyyah”. Oleh karena itu, saat para ulama’ - termasuk di dalamnya para ustadz - berbicara dalam tema-tema pembahasan yang kami sebutkan di atas, hakikatnya mereka sedang mengedukasi umat tentang sebuah ilmu. Jadi, kalaupun mereka dikatakan “sibuk bicara politik”, maka itu kesibukkan yang terpuji dalam arti “sibuk” menjelaskan sebuah ilmu.

Itu jika dikatakan mereka “sibuk”. Faktanya, para ustadz yang membahas masalah tersebut tidaklah disibukkan dengan masalah itu saja. Pembahasan masalah itu hanya “secuil” dari kesibukan mereka. Karena hanya butuh waktu kurang lebih 10 menit untuk menyusun sebuah artikel lalu menguploadnya di medsos. Setelah itu selesai.

Semua kegiatan ilmiyyah dan bermanfaat mereka tetap berjalan sebagaimana mestinya. Mulai dari membaca buku-buku bermanfaat minimal 4 jam perhari, menyusun buku-buku dan artikel-artikel bermanfaat minimal sehari bisa tamat menyusun satu artikel, mengisi majelis taklim di berbagai masjid (yang dalam seminggu tidak kurang dari 10 mejelis), mengisi seminar-seminar, mencari nafkah, melayani dan menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan seputar masalah agama, mengajar santri, berinteraksi dengan keluarga (anak dan istri), melakukan berbagai kegitan positif di masyarakat, dan lain sebagainya.

Terus dimana letak “tersibukkannya” ? Allah memberikan waktu sehari semalam sebanyak 24 jam, dan hanya kurang 10 menit untuk membahas masalah “politik”. Sisanya masih 23 jam 50 menit. Lalu dimana “tersibukkannya”?

Jangan-jangan anda sendiri yang tersibukkan dengan “ngompol” (ngobrol politik). Walau ngakunya “golput”, eh..ternyata tiap hari sibuk membantah sana-sini, menyesatkan sana-sini, menghizbikan sana-sini, menghinakan sana-sini, mengeshare berbagai artikel bantahan, sibuk depat kusir di medsos, sibuk mengumpulkan berbagai artikel dan bantahan untuk lawan debatnya, main HP (mendsos) berjam-jam. Kalau sudah seperti ini, siapa sesungguhnya yang “disibukkan” dengan politik ?

Maka, jangan mudah menuduh orang lain begini dan begitu. Cuma khawatir, karena biasanya “orang yang sibuk menuduh orang lain dengan kejelekan, biasanya kondisinya lebih jelek dari orang yang dia jelek-jelekkan”. Demikian dinyatakan oleh ulama’ salafy, syaikh Shalih bin Fauzan –hafidzahullah- (secara makna).

Semoga dengan tulisan ini, tidak ada lagi netizen yang protes kepada ustadz (X)* dengan mengatakan “Sibukkan kami dengan ilmu ya ustadz....”,gegara ustadznya menyusun berbagai artikel ‘politik’, yang hakikatnya itu semua adalah ilmu. Wallahu yahdi ila aqwam ath-thariq.

Solo, 14/04/2019
Abdullah Al-Jirani
-------
*Maaf, nama ustadznya sengaja kami samarkan.

Abdullah Al Jirani
17 jam ·

Related Posts

Ayo Belajar Islam

"Ayo belajar ilmu fiqih, agar tidak mudah menyalahkan orang dan tidak gampang bilang bid'ah kepada sesama muslim." "Ayo belajar fiqih ihktilaf, agar tidak merasa paling benar sendiri." "Ayo belajar perbandingan mazhab, agar tidak merasa selain kami sesat." (Kajian Medina)

Kajian Medina

Blog Kajian Medina : Cerdaskan Umat Lewat Kajian Khilafiyah, Ikhtilaf dan Ukhuwah oleh Ustadz dan Tokoh Sebagai Pencerahan Menuju Persatuan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah.