Empat Mazhab

Empat Mazhab - Kajian Medina
Empat Mazhab

Dunia Islam sejak 14 abad yang lalu memang mengakui keberadaan empat mazhab fiqih yang muktamad, yaitu mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali.

Bukan berarti mazhab di luar itu sesat, tetapi memang tidak available lagi di publik. Ibarat hp jadul, sudah tidak produksi lagi, kecuali di kalangan amat terbatas saja.

Lalu keempat mazhab yang muktamad itu tidak saling bermusuhan, sebaliknya saling menghormati wilayah teritori masing-masing.

Mazhab Hanafi tersiar di India, Pakistan, Cina, Turki secara dominan. Bukannya mazhab lain tidak boleh, tetapi memang kurang populer di wilayah itu.

Mazhab Maliki populer di Afrika bagian Utara, mulai dari Libya, Tunis, Aljazair, Maroco dan juga Spanyol di masa lalu.

Mazhab Syafi'i amat dominan di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Brunai, Singapore, Thailand dan sekitarannya.

Mazhab Hambali amat populer di Saudi Arabia dan diendors oleh pihak Kerajaan. Kita amat berterima-kasih karena peran Kerajaan Saudi Arabia yang sangat besar demi kelangsungan mazhab Hambali. Tidak dapat dibayangkan kalau tidak ada peranan itu, boleh jadi terlupakan dalam sejarah.

Di beberapa negara, ada fenomena menarik, yaitu beberapa mazhab bisa berjalan bersamaan, seperti di Mesir, Suriah, Iraq dan lainnya. Di negeri itu ada mazhab Hanafi yang umumnya merupakan representasi dari mazhab negara, tetapi rakyatnya banyak juga yang bermazhab Syafi'i, karena memang negeri itu dulu tempat tinggal Al-Imam Asy-syafi'i dan murid-murid beliau.

Masjid Al-Haram

Cerita dari para mualim kita dulu, ternyata di Masjid Al-Haram Mekkah pun dulunya keberadaan empat mazhab itu dihormati. Di pojok-pojok masjid ada pusat pengajaran masing-masing mazhab.

Konon mazhab Asy-Syafi'i menempati area dekat Babus-salam. Sehingga dalam pelajaran manasik haji buat bangsa kita, sebaiknya masuk ke Masjid Al-Haram lewat Babus-salam ini. Selain ada dalilnya, juga ada hikmahnya, yaitu biar mereka tidak salah nyelonong ke pusat pengajaran mazhab lainnya. Nanti malah jadi bingung sendiri.

Sebab di kampungnya sudah belajar agama pakai mazhab Asy-Syafi'i, kok tiba-tiba di Mekkah nyelonong ke mazhab Hambali, Hanafi atau Maliki. Pasti akan kebingungan sendiri jadinya.

Sayangnya sportifitas macam itu sekarang sudah tidak ada lagi, karena semua pengajar di Masjid Al-Haram (dan masjid Nabawi juga) sama sekali tidak memperbolehkan ulama selain mazhab Hambali untuk mengajar.

Jadi kalau ada muslim dari negeranya sudah bermazhab sesuai dengan yang berlaku di negeri mereka, terus belajar di Masjid Al-Haram atau Masjid Nabawi, maka otomatis dia akan pindah mazhab sesuai dengan cetakan dari gurunya.

Sayangnya lagi, gurunya pun kurang bijak. Seharusnya bilang, maaf ya mas, yang kita ajarkan ini mazhab Hambali nih. Boleh jadi tidak sesuai dengan mazhab Sampeyan. Maaf lho ini.

Gitu seharusnya. Tapi yang terjadi kayaknya tidak seperti yang diharapkan. Mereka bilangnya gini : Ini yang shahih dari Rasulullah SAW, yang diajarin guru ente di kampung itu haditsnya paslu, ajarannya sesat, ibadahnya penuh bid'ah, pemahamannya keliru, aqidahnya syirik akbar dan bla bla bla.

Lho-lho, mas Syeikh kok sampeyan kayak gitu ngajarnya? Lha mbok Njenenang niku sing apik, mboten sah bidngah-bidngahake, niku mboten sae.

Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Ahmad Sarwat
4 Februari pukul 10.15 ·



Komentar : 

Zen Aljufri : Nampaknya ada benang merah penghubung antara salafism dengan Hambalism

Ahmad Sarwat : Sebenarnya salafisme itu musuh mazhab Hambali juga.

Zen Aljufri : ooh iya..????? tapi mereka bisa hidup berdampingan ya..

Ahmad Sarwat : Yang kita pelajari di bangku kuliah itu mazhab Hambali, khususnya dalam mata kuliah Ushul Fiqih. Kitabnya Raudhatu An-Nazhir karya Ibnu Qudamah. Itu 100% Hambali dan kita pelajari sebagai kurikulum resmi di LIPIA. Tapi isinya sangat anti salafi dan sangat tidak wahabi. Sebab di bab-bab akhir ada kajian tentang Ijtihad dan Taqlid, yang intinya mengharamkan selain mujtahid untuk berijtihad. Dan bahwa kita wajib BERTAQLID kepada imam mazhab tertentu.
Sementara yang diajarkan tokoh-tokoh salafi kebalikannya, bahwa taqlid itu haram, bermazhab itu tidak sesuai sunnah. Yang tahu sunnah cuma Albani seorang saja, yang lain goblok gak ngerti sunnah. Dan bla bla bla panjang lebar.

Mahdi Bashroni Rizal : kalau gtu yg di ajarkan di saudi sana itu madzab hambali atau salafi?

Irham Maulana Makkawaru : Mahdi Bashroni Rizal hambali

Ahmad Sarwat : Sesuai pemahaman shahabat? Lalu kalau sesama para shahabat sendiri berbeda pendapat, ikut pendapat yang mana?
Terus kalau mazhab ulama itu apakah tidak ikut pendapat shaahabat dan tabiin?
Puyeng banget ngomong sama orang kagak paham agama.

Chaidir Doang : Izin share ya stadz...

Wildan Fauzi : Jualan kecapnya kebablasan ya Ustadz... Ada semacam Black campaign

Fathoni Muhammad : Ulama Salafi menganggap dirinya dah di atas empat Mazhab yg ada.. jadi ga pernah salah, apalagi kalo dah berpegangan kpd FIKIH SUNAH SHOHIHAH maka mengangkangi semuanya..
Soo.. mereka ga akan sempat berpikir bahwa audiens nya itu secara amaliyah dah terbentuk berdasarkan salah satu dari empat Mazhab..

Related Posts

Ayo Belajar Islam

"Ayo belajar ilmu fiqih, agar tidak mudah menyalahkan orang dan tidak gampang bilang bid'ah kepada sesama muslim." "Ayo belajar fiqih ihktilaf, agar tidak merasa paling benar sendiri." "Ayo belajar perbandingan mazhab, agar tidak merasa selain kami sesat." (Kajian Medina)

Kajian Medina

Blog Kajian Medina : Cerdaskan Umat Lewat Kajian Khilafiyah, Ikhtilaf dan Ukhuwah oleh Ustadz dan Tokoh Sebagai Pencerahan Menuju Persatuan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah.