Tidak bermanhaj salaf ketika di rumah, berdagang, bertetangga, beribadah, namun gas pol manhaj salaf dalam berdakwah.
Upaya pengerdilan atau menyempitkan kehadiran islam dalam kehidupan ummat, selalu saja dilakukan oleh musuh dalam selimut.
Sekulerisasi di setiap masa tiada henti dan akan terus diperjuangkan agar islam nampak buruk atau tersingkir dari kehidupan ummat.
Modernisasi pola dan bahasa bukan hanya anda yang melakukan namun juga oleh para penumpang gelap.
Bila dahulu sekuler dalam bentuk menyempitkan ruang islam hanya pada area ahwal syakhsiyah (hukum keluarga), sehingga islam tidak hadir dalam diri para pejabat dan pelaku ekonomi.
Kini bisa jadi sekulerisasi terjadi dengan bahasa yang terkesan keren “manhaj salaf”., Namun penerapannya dikondisikan agar sempit, yaitu pada urusan menyikapi orang yang berbeda pemahaman atau amalan saja.
Adapun dalam hal yang paling penting, yaitu bagaimana memahami dalil, menerapkan, mendakwahkan dan lainnya “dikesankan” sekali lagi “dikesankan” urusan skunder.
Yang primer adalah “asal gas pol” kepada semua orang yang berbeda maka dia paling salafy bahkan layak menyandang gelar maestro manhaj.
Padahal manhaj secara bahasa saja berartikan jalan alias metode alias cara, bukan sekedar hasil akhir, catat ya bukan sekedar hasil akhir.
Jadi kalau ada yang fokus pada hasil akhir lalu gas pol “ manhaaaaaj”, tanpa mengurai metode dan cara analisanya, cara penerapannya dan cara mendakwahkanya maka itu namanya jualan “kulit kacang” namun “kopong” alias kulit tanpa isi.
Dapat disinyalir ada gerakan terstruktur untuk menyempitkan ranah manhaj dan mengosongkannya dari isi.
Semoga mencerahkan.
Dr Muhammad Arifin Badri
7 jam ·
#Dr Muhammad Arifin Badri
