Yang barangkali agak beda hanya penghafal al-Qur’an sebab mereka biasanya jauh lebih banyak dapat pahala membaca al-Qur’an daripada yang tidak hafal.
Yang lebih penting dari menghafal adalah memahami dengan baik dan mampu mengolah apa yang dibaca sebab ini hanya bisa dilakukan manusia yang terlatih. Betapa banyak penghafal yang tak tahu apa-apa kecuali membunyikan kembali kata yang dihafalnya. Seperti komputer yang mampu menghafal banyak sekali data tapi tak mampu membuat satu pun artikel tanpa campur tangan manusia.
Sebab itulah, para imam periwayat hadis di masa lalu biasanya lebih banyak terdiam ketika berada bersama mujtahid. Mereka sadar bahwa periwayat dan kritikus hadis hanya hafal biodata perawi dan perkataan mereka. Soal memahami dan mengolah apa maksudnya, itu wilayah para mujtahid. Hanya saja harus dicatat bahwa mujtahid juga menghafal hadis.
Sungguh aneh bin ajaib, meski demikian faktanya tapi ada saja di masa ini yang hafal beberapa hadis (tanpa data sanad) langsung merasa dirinya mujtahid, bahkan merasa lebih tinggi levelnya dari para imam mazhab 4 yang suka mereka bilang "tidak maksum".
Abdul Wahab Ahmad
11 Januari pukul 23.43 ·
#Abdul Wahab Ahmad